Tanjakan Sambalado Gunung Kencana - Puncak Kencana

Mencoba Pedasnya Tanjakan Sambalado Gunung Kencana

Mencoba Pedasnya Tanjakan Sambalado Gunung Kencana – Gunung Kencana adalah sebuah gunung, atau lebih tepatnya sebuah bukit yang berada di kecamatan Megamendung, kabupaten Bogor, dengan ketinggian 1803 MDPL. Letaknya sendiri di kawasan perkebunan teh dan menyajikan pemandangan yang cukup bagus dipuncak yaitu view keramaian kota Puncak Bogor & Megamendung, serta pemandangan Gunung Gede Pangrango yang berdiri gagah di sebelah selatan dan Gunung Salak yang dari kejauhan terlihat di sebelah barat.

Setelah beberapa bulan lalu mendaki Gunung Munara saya sepertinya menjadi ketagihan untuk naik gunung. Karena masih pemula & ingin pemanasan dulu sebelum mendaki gunung2 yang advanced, saya sempet ngobrol dengan teman untuk coba menaiki Gunung Kencana yang tidak terlalu tinggi dan masih dekat dengan Jakarta, sekaligus untuk mencoba tenaga apakah bisa jika nanti naik gunung yang benar2 gunung. Setelah mendapatkan waktu yang tepat dan dengan persiapan yang lumayan lengkap dengan menyewa tenda, matras serta keperluan mendaki lainnya, kami berempat berangkat ke Gunung Kencana hari Sabtu pagi tanggal 19 September 2021 menggunakan mobil low MPV (baru tahu meski bisa sebenarnya ngga rekomended kalo pakai mobil tipe ini untuk ke Gunung Kencana 😀 ).

Tanjakan Sambalado Gunung Kencana - Persiapan Peralatan Pendakian
Persiapan Logistik Yang Dibawa Mendaki

Rute yang dipilih adalah dari Jakarta melalui Tol Jagorawi, keluar pintu tol Ciawi, kemudian mengambil jalur alternatif arah Puncak, karena jalur utama yang macet. Ketika sudah mendekati puncak, patokan untuk masuk Gunung Kencana adalah Melrimba Garden . Waktu tempuh dari Jakarta sampai Melrimba sekitar 2,5 jam perjalanan (dengan kami juga sempat mampir beli makan di sekitaran Megamendung). Dari sini ambil jalan ke kiri, nanti akan masuk kawasan Telaga Warna. Untuk masuk kawasan telaga warna dikenakan biaya 25 ribu per orang. Dari sini akan mulai disuguhi pemandangan indah kebun teh di bawah perbukitan hijau.

Tanjakan Sambalado Gunung Kencana - Suasana Kebun Teh Sebelum Sampai Gunung Kencana
Hamparan Kebun Teh Saat Memasuki Kawasan Telaga Warna

Tapi dari sini juga keseruan (kesusahan 😀 ) dimulai. Jalur yang dilalui adalah jalur offroad berbatu. Setelah pintu masuk lewat sekitar 3KM anda akan menemui kawasan wisata Telaga Saat. Dari situ masih lanjut lagi jalan offorad sekitar 5KM anda akan menemui SD Negeri Cikoneng. Masih belum selesai anda masih harus melewati jalan berbatu yang jauh lebih parah lagi sekitar 3KM lagi untuk sampai ke basecamp dimana hanya bisa dilalui oleh 1 mobil saja, jadi sambil lewat juga sambil berdoa semoga ga sampe berpapasan dengan mobil yang berlawanan arah karena akan sangat repot 😀 .

Mobil Handal Melewati Jalur Bebatuan Sempit Diantara Perkebunan Teh 😀

Setelah hampir 2 jam melalui jalan offroad bebatuan tinggi 11 KM dengan kecepatan sangat pelan karena takut mobil nggasruk, akhirnya kami tiba di basecamp pendakian Gunung Kencana. Basecamp ini adalah sebuah warung makan milik Pak Unang, sekaligus menjadi tempat parkir kendaraan bagi pendaki. Biaya parkir disini untuk mobil adalah 25 ribu rupiah.

Warung Basecamp & Tempat Parkir Kendaraan. Gunung Kencana sudah terlihat menunggu dibelakang.

Saat nya mulai mendaki. Tujuan awal pendakian adalah menuju pos registrasi yang bisa ditempuh dengan waktu +/- 15 menit dengan kecepatan berjalan sedang. Untuk jalur awal pendakian masih sama melewati jalur berbatu ditengah kebun teh. Jalur yang dipilih bisa melalui jalan utama yang lebar, atau jalan pintas melalui jalur air yang kering disela-sela pohon teh yang lebat. Kami memilih jalur pintas melewati jalur air yang kering untuk rute mendaki ke atas.

Jalur Awal Pendakian Gunung Kencana

 

Akhirnya kami sampai di pos registrasi pendakian. Terlihat tugu sambutan selamat datang disini. Hal yang harus dilakukan adalah melakukan registrasi, mengisi buku kehadiran, meninggalkan kartu identitas & no telpon yang bisa dihubungi. Biaya registrasi sebesar 20 ribu per orang.

Selamat Datang di Gunung Kencana

Setelah pos registrasi, hal yang menjadi ciri khas gunung ini sudah terlihat. Dia adalah Tanjakan Sambalado Gunung Kencana, tanjakan terjal yang nyaris vertikal dan berupa kayu-kayu yang dibuat oleh pengelola untuk mempermudah pendakian.

Tanjakan Sambalado Gunung Kencana
Tanjakan Sambalado

Walaupun Gunung Kencana ini gunung yang relatif tak terlalu tinggi tapi jangan salah atau sampai meremehkan gunung ini. Karena untuk sampai ke atas medannya sangat terjal terutama di tanjakan sambalado ini. Dengan naik tangga sudut yang nyaris 60 derajat, Tanjakan Sambalado Gunung Kencana itu akan bisa membuat kaki-kaki anda akan merasakan pegal2 dan sensasi pedas, itulah alasan kenapa tanjakan ini dinamakan tanjakan sambalado. Melewati tanjakan kayu bertingkat dengan kita berjalan dibawahnya membuat sesuatu yang cukup bagus untuk diabadikan. 

Menaiki Tanjakan Sambalado, Kaki Serasa Pedas

 

Bagaimana sekilas rasanya menaiki tanjakan sambalado bisa dilihat di video berikut: 

 

Melewati Tanjakan Sambalado 1

 

Melewati Tanjakan Sambalado 2

 

Setelah sekitar 30 menitan berjalan dengan beberapa kali istirahat karena capek akhirnya kami tiba di pos 1. Saya kira pos disini adalah sebuah tempat gubuk atau bangunan apa gitu, ternyata hanyalah papan hijau bertuliskan Pos 1, sambil hanya ada beberapa tempat kayu2 kecil buat duduk.

Pos 1 Pendakian Gunung Kencana

Lanjut perjalanan, sambelnya belum habis nih. Tanjakan Sambalado Gunung Kencana part 2 masih berlanjut dengan medan yang masih terjal, namun sedikit perbedaan dengan model tangganya, dimana kalau di sambalado 1 berupa kayu yang disusun dan terdapat pegangan untuk tangan di sebelah kiri & kanan, pada tanjakan sambalado 2 ini lebih ke kayu2 yang ditempel pada tangga tanah untuk memudahkan pendaki, namun tidak ada lagi kayu2 pegangan di sampingnya. Kurang lebih 30 menit berjalan dengan beberapa kali istirahat, kami tiba di pos 2, dan kondisi pos 2 pun ya sama kaya pos 1, cuma plang tulisan doang tanpa ada pos / gubuk untuk beristirahat dengan nyaman.

Pendakian dari Pos 1 ke Pos 2

 

Setelah dari pos 2 medan pendakian sudah enak. Jalan sudah landai dan tidak terjal lagi seperti waktu di tanjakan sambalado. Dibutuhkan waktu kurang dari 15 menit untuk sampai puncak dari pos 2. Akhirnya setelah 1 jam 30 menit kami sampai di puncak. Namun karena sudah kesorean sekitar jam 17:30 kami baru sampai puncak, terlihat kabut tebal sudah menyelimuti area sekitar, sehingga pemandangan gunung Gede Pangrango tidak terlihat. Tapi tetep dong harus mejeng foto di puncak kencana 1803 MDPL. 😀

Lokasi Puncak Kencana 1803 MDPL

Karena sudah hampir gelap kami segera mendirikan tenda untuk camping. Ya seperti camping pada umumnya, kegiatan yang dilakukan ya cangkruk di tenda, masak-masak, main kartu, menyalakan api unggun sambil menikmati dinginnya udara segar Gunung Kencana, dan tentu saja menikmati makanan terenak khas gunung, nasi + mie instan + kacang atom 😀 .

Suasana Camping di puncak Gunung Kencana

 

Salah satu hal yang bisa didapat di Gunung Kencana adalah pemandangan gemerlap lampu-lampu kota yang menghiasi bangunan-bangunan yang berada di daerah Megamendung, Bogor dan sekitarnya yang terlihat jelas dari puncak Gunung Kencana.

Pemandangan Lampu Kota Menghiasi Malam di Puncak Gunung Kencana

Hari sudah larut malam dan kami bersiap untuk istirahat. Satu hal yang cukup mengganggu adalah adanya Bocil di tenda sebelah yang berperilaku sangat tidak pantas di gunung. Mereka berteriak bersahut-sahutan dengan entah temannya atau siapa di tenda lain kata-kata kotor semacam “a*ying, ng*w*, c*l*, k*nt**, dll”  dan itu dilakukan besahut-sahutan kemudian dilanjut dengan tertawa terbahak2 hampir sepanjang malam. Ga tau deh saya maksudnya mereka apaan, entah untuk menggojlok orang atau gimana atau mereka sedang mabok atau gimana juga ga tau, tapi hampir sepanjang malam sampai pagi dilakukan terus menerus dan sangat menggangu istirahat pendaki lain. Sangat miris karena sepertinya kalau dilihat dari logat bahasa yang digunakan, hal tersebut dilakukan oleh “Akamsi (Anak Kampung Sini)”, yang harusnya memberikan kesan & contoh yang baik bagi wisatawan dari daerah lain, tapi justru melakukan tindakan memalukan seperti itu. Semoga menjadi pembelajaran untuk semua agar lebih menjaga sikap & adab selama di gunung atau dimanapun berada.

Pagi hari menjelang, akhirnya kabut sudah mulai hilang, dan pemandangan Gunung Gede Pangrango sudah terlihat cukup jelas, namun sayangnya untuk kabut yang ke arah Gunung Salak masih menyelimuti, jadi Gunung Salak hanya terlihat tipis-tipis saja, namun hal tersebut tidak mengurungkan niat untuk mengabadikan pemandangan di puncak gunung Kencana.

Pemandangan puncak Gunung Kencana di pagi hari

 

Setelah masak, sarapan, dan cangkruk menikmati udara pagi gunung kencana kamipun berkemas dan bersiap untuk turun gunung. Sebelum turun tentu saja mejeng dulu untuk berfoto di puncak gunung Kencana, kali ini dengan pemandangan Gunung Gede Pangrango yang sudah mulai terlihat.

Foto Di Puncak Kencana

Sekitar jam 10 pagi kami memutuskan untuk turun. Kami turun melalui jalur yang sama saat naik, melalui hutan-hutan dan pepohonan rindang, serta tanjakan sambalado yang terjal itu. Kami berjalan pelan dan berhati-hati saat melewati tanjakan, dan beberapa kali berhenti sejenak untuk mengambil foto di sekitaran hutan ataupun tanjakan sebelum sampai di pos registrasi.

Perjalanan turun dari puncak menuju basecamp

 

Dari pos registrasi, untuk kembali ke basecamp, berbeda dengan saat naik yang memilih jalur pintas, kali ini kami lebih memilih jalur utama yang jalannya lebar. Selain jalurnya yang lebih landai dan bisa lebih santai saat berjalan, di jalur utama ini anda bisa menikmati pemandangan kebun teh yang dikelilingi bukit-bukit. 

Pemandangan di Jalur utama pendakian dari basecamp ke pos registrasi

 

Waktu tempuh dari puncak sampai ke basecamp sekitar 1 jam perjalanan. Sesampai di basecamp kami beristirahat sejenak, mencuci muka, dan mampir ke warung Pak Unang untuk sekedar minum & menyantap gorengan. Ketika mau melanjutkan perjalanan pulang kembali ada kejadian KTP kami tertinggal di pos registrasi yang jaraknya lumayan jauh dari basecamp, namun Pak Unang pemilik warung dengan baik hati mau mengantarkan dengan motor beliau, kembali ke pos registrasi untuk mengambil KTP yang tertinggal, dan tanpa mau diberi imbalan. Sekitar jam 11:45 kami kembali pulang ke Jakarta, namun tentu saja harus melalui jalanan offroad sejauh 11 KM dari basecamp menuju jalan besar di sekitaran Puncak. Kurang lebih hampir 2 jam perjalanan baru sampai jalan besar, terlihat macet panjang di jalur turun dari Puncak arah Ciawi. Karena males macet-macetan akhirnya kami memilih jalur naik arah Puncak menuju Cianjur, untuk cari makan di sekitaran warung-warung dekat Polsek Puncak sambil menunggu macet selesai.

Pemandangan dari Balkon Warung di Kawasan Puncak

Untuk menghindari harga yang digetok oleh pedagang seperti yang sempat viral di beberapa waktu lalu, kami tentu saja menanyakan terlebih dahulu harga menu2 makanan yang tersedia. Di sini saya memilih menu sate Kelinci. 1 porsi sate kelinci disini dihargai 40 ribu, ditambah 1 porsi nasi & teh hangat, kocek yang harus dirogoh adalah 50 ribu, harga yang lumayan mahal 😀 .

Sate Kelinci

Sekitar jam 3 sore terlihat kemaceten depan warung sepertinya sudah terurai, akhirnya kami memutuskan untuk pulang kembali ke Jakarta. Dugaan kami ternyata salah, beberapa KM masih dikawasan Puncak ternyata macet parah, dan kamipun harus terjebak di situasi tersebut. Bahkan kami baru sampai di Jakarta sekitar jam 9 malam, hampir 4 jam terjebak macet di Puncak-Ciawi 🙁 , dan sampai harus istirahat beberapa saat di SPBU daerah puncak untuk mengurangi rasa capek terjebak macet.

Mendaki Gunung Kencana memang kegiatan yang menyenangkan untuk refreshing melepaskan penat dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Karena banyak hal yang bisa didapatkan disini, mulai dari tantangan menaklukan tanjakan sambalado, camping di puncak, pemandangan indah selama perjalanan dan juga saat di puncak bisa menyaksikan keindahan alam Gunung Gede Pangrango & Salak, serta melihat gemerlapnya lampu kota di malam hari. Namun jika disuruh kembali kesini saya sih mungkin ga akan mau melakukannya, tapi lebih ke alasan non teknis sih. Yaitu karena males harus menghadapi kemacatan lalu lintas yang luar biasa saat pulang mulai dari Puncak sampai Ciawi, dan tentu saja jalanan berbatu yang sangat mengganggu selama perjalanan dari pintu masuk kawasan Telaga Warna sampai ke basecamp Gunung Kencana. Jika anda kesini sangat disarankan untuk menggunakan mobil/motor offroad agar nyaman selama melewati jalanan berbatu di kebun teh, dan juga sebaiknya datang tidak di akhir pekan atau liburan untuk menghindari macet horor yang memang sudah menjadi ciri khas daerah Puncak Bogor. Kalo saja jalanan akses ke Gunung Kencana bisa diperbaiki & kesana pas lagi ga jalanan di daerah Puncak macet, mendaki ke Gunung Kencana tentu saja menjadi hal yang sangat menyenangkan.

Untuk perkiraan biaya yang perlu dipersiapkan jika ingin mendaki Gunung Kencana seperti yang kami lakukan kurang lebih seperti dibawah ini:

Kebutuhan Biaya
Pertamax PP Jakarta-Gunung Kencana 200.000
Tol Jakarta-Ciawi PP 50.000
Sewa tenda, sepatu, matras, peralatan mendaki 2 hari 460.000
Tiket masuk kawasan Telaga warna 4 orang @25000 100.000
Parkir kendaraan Gunung Kencana 25.000
Biaya registrasi naik Gunung Kencana 4 orang @20000 80.000
Belanja logistik beras, mie, roti, snack, baterai, gas, dll 270.000
Makan siang hari pertama di Megamendung 4 orang 120.000
Makan siang hari kedua di kawasan Puncak 4 orang 180.000
Biaya lain2 (ke toilet, kasih uang pak ogah, dll) 30.000
Total Biaya: 1.515.000
Biaya per orang: 378.750

Sekian tulisan mengenai Mencoba Pedasnya Tanjakan Sambalado Gunung Kencana . Semoga setelah membaca tulisan ini, pembaca bisa mendapatkan informasi tentang bagaimana caranya untuk mendaki ke Gunung Kencana, dan juga rincian biaya yang perlu dipersiapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *